Media

FPTI Aceh Bidik Satu Emas di PON Papua

BANDA ACEH-Pengurus Provinsi (Pengprov) Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Aceh membidik satu medali emas pada perhelatan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua.

Tekad kuat untuk merebut emas tersebut ditegaskan dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) 2019 di Gedung KONI Aceh, Kuta Alam, Banda Aceh, Aceh, Minggu (20/1/2019). Rakerprov ini dihadiri 15 dari 18 Pengkab/Pengkot FPTI seluruh Aceh dan dibuka Ketua Umum KONI Aceh, diwakili Wakil Ketua III, Teuku Rayuan Sukma.

Ketua FPTI Aceh Muhammad Saleh mengatakan, rakerprov ini merupakan program rutin FPTI Aceh setiap tahun berjalan. Tujuannya, mengevaluasi berbagai program kerja yang telah dilaksanakan pada 2018 lalu dan menyusun program prestasi serta organisasi tahun 2019.

“Salah satunya, mengkaji ulang persoalan pelaksanaan PORA yang perlu pembenahan, terutama kesiapan pembangunan sarana dan prasarana,” jelasnya.

Muhammad Saleh memaparkan, sejak FPTI Aceh menjadi anggota KONI Aceh tahun 1996 silam, belum mampu memberikan medali emas untuk Aceh pada ajang Pekan Olahraga Nasional (PON). Oleh karena itu, FPTI Aceh akan merebut satu emas PON Papua sesuai target satu emas yang diberikan KONI Aceh.

“Tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Banyak hal yang harus diperbaiki dan penuhi. Mulai dari sistem pembinaan atlet hingga terpenuhinya sarana dan prasarana (sapras). Baik di kabupaten dan kota maupun provinsi,” ujar Saleh.

Baca juga  Inilah 12 Atlet Hasil Promosi dan Degradasi

Ini menjadi penting, sejalan dengan meningkatnya prestasi atlet panjat tebing di Sumatra maupun Pulau Jawa, Bali, Sulawesi dan Kalimantan.

“Tapi kita harus tetap optimistis, tak ada kata tidak bisa selama kita mau berbuat dan berusaha. Karena itu, sistem pembinaan dan kepelatihan harus diubah, sesuai dengan semakin ketatnya persaingan di level nasional. Sarana dan prasarana juga harus terpenuhi walaupun belum seluruhnya ada,” katanya.

Selama tahun 2019, pihaknya mewajibkan setiap Pengkab/Pengkot FPTI se-Aceh, memiliki minimal satu wall (dinding). Jika tidak, maka akan dievaluasi dan bukan tidak mungkin akan dibekukan.

“Alasannya, mana mungkin bicara prestasi dan pembinaan atlet jika tidak memiliki sarana. Waktu yang kami berikan sudah cukup sehingga tidak ada alasan bagi bupati/wali kota serta KONI dan Pengkab/Pengkot Panjat Tebing di daerah untuk tidak membangun wall,” tegas Saleh.

Dia mengaku, tak mau lagi panjat tebing hanya dijadikan cabor papan nama di daerah atau aktif hanya menjelang Pra PORA dan PORA (Pekan Olahraga Aceh).

“Saat ini, 12 Pengkab/Pengkot FPTI di Aceh yang serius melakukan pembinaan. Jadi, sudah cukup dan memenuhi syarat sebagai peserta PORA. Selebihnya akan dievaluasi dan jika tidak segera berbenah, akan dibekukan. Kita tak butuh gemuk, tapi lamban. Biar ramping tapi menuai prestasi,” sebut dia.

Sementara itu, T. Rayuan Sukma, Wakil Ketua III Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Aceh memberi apresiasi kepada Rakerprov FPTI Aceh. Menurutnya, FPTI Aceh satu-satunya pengurus cabang olahraga provinsi di Aceh yang disiplin atau taat azas, melakukan Rakerprov.

Baca juga  4 Atlet Melenggang ke Final Speed IFSC Worldcup Chamonix

“Dari amatan kami, Pengprov FPTI Aceh rutin mengelar Rakerprov di awal tahun berjalan. Banyak Pengprov Cabor justru melaksanakan Rakerprov di akhir tahun. Itu pun kalau ada dan mayoritas tidak melakukannya,” ungkap dia.

Menurutnya, evaluasi program kerja dan pembinaan atlet sangat perlu dilakukan sehingga bisa menyusun program pembinaan secara berkesimbungan. “Untuk tahun 2019, KONI Aceh menempatkan Pengprov FPTI Aceh pada perioritas kedua. Ini sejalan dengan berbagai prestasi yang diraih. Kami berharap, dapat naik menjadi perioritas pertama dengan perolehan prestasi yang mengembirakan. Insyaallah, target satu medali emas di PON Papua dapat terwujud,” harapnya.

T Rayuan Sukma menyebutkan, Perkembangan FPTI secara nasional sudah sangat bagus. Bahkan, para peminat juga terus bertambah. Apalagi, saat pertandingan mengundang rasa ketegangan yang luar biasa karena dilakukan oleh atlet-atlet yang profesional.

Begitu juga perkembangan FPTI di Aceh sudah sangat mengembirakan. Itu sebabnya, KONI Aceh juga tidak tinggal diam, bagi para atlet yang memperoleh prestasi di tingkat nasioanl dan internasioanal akan diganjar dengan bonus besar.