Media

Kaleidoskop 2018

Kaleidoskop 2018: 32 Medali dari Kejuaraan Panjat Tebing Internasional

2018 menjadi tahun kebangkitan bagi dunia panjat tebing Indonesia. Para atlet semakin bersinar di kancah internasional dan mulai dikenal luas oleh masyarakat umum.

Di tahun ini, terhitung sudah 23 medali yang diraih para atlet dari 8 perlombaan internasional yang tercatat dalam kalender resmi IFSC. Selain itu ada 3 kompetisi internasional lain dengan tambahan koleksi medali 9 keping.

Presiden Jokowi menyerahkan bonus kepada atlet peraih medali Asian Games, Minggu (2/9/2018). (Rusman-Biro Pers Setpres)
Presiden Jokowi menyerahkan bonus kepada atlet peraih medali Asian Games, Minggu (2/9/2018). (Rusman-Biro Pers Setpres)
Tim panjat tebing Indonesia selalu pulang dengan membawa medali dalam setiap kompetisi internasional yang diikuti. Nomor speed world record (speed WR) menjadi andalan tim panjat tebing Indonesia dalam meraih medali-medali itu.

Prestasi internasional tahun 2018 dimulai dengan IFSC Climbing Worldcup di Moscow, Rusia, pada April lalu. Atlet asal Kalimantan Barat, Veddriq Leonardo, berhasil mempersembahkan medali perunggu.

Sebulan berikutnya, yakni pada 5 Mei 2018, Aries Susanti Rahayu berhasil meraih medali emas di IFSC Worldcup Chongqing, China. Video yang merekam aksi Aries dalam perebutan medali emas kala itu, viral di kalangan masyarakat Indonesia.

Banyak yang takjub dengan aksi Aries hingga ia mendapat julukan spiderwoman. Sejak saat itulah olahraga panjat tebing khususnya nomor speed WR mulai dikenal luas di negeri ini. Aries banjir puja-puji.

Selain emas dari Aries, Indonesia juga mempersembahkan 1 perak dan 1 perunggu di IFSC Worldcup Chongqing. Medali perak dipersembahkan oleh Aspar Jaelolo dan perunggu dari Puji Lestari.

Sepekan setelahnya, Timnas Panjat Tebing Indonesia merebut 2 medali di IFSC Worldcup Tai’an, China. Kali ini Aries meraih medali perak dan Sabri meraih perunggu.

3 Bulan setelah itu, Timnas Panjat Tebing Indonesia semakin menunjukkan tajinya. Di Asian Games 2018, Indonesia mempersembahkan 6 medali yakni 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu. Raihan ini melampaui target awal 2 emas dari pelatih.

Bertanding di kandang sendiri memang bukan soal adu fisik semata. Psikis para atlet juga semakin tertantang kala teriakan dukungan dari tribun penonton begitu riuh.

Rindi Sufriyanto (kiri), Abu Dzar Yulianto (kanan), dan M Hinayah yang terharu ketika mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, Senin (27/8/2018).
Rindi Sufriyanto (kiri), Abu Dzar Yulianto (kanan), dan M Hinayah yang terharu ketika mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan, Senin (27/8/2018).
Medali emas dipersembahkan dari nomor women’s speed WR (Aries), women’s speed relay (Aries-Puji Lestari, Rajiah Salsabilah), dan men’s speed relay (Abudzar Zulianto, M Hinayah, Rindi Sufriyanto).

Baca juga  Indonesia Juara Dunia di IFSC Climbing Chongqing, China

Kemudian untuk medali perak diraih dari nomor women’s speed WR (Puji Lestari) dan men’s speed relay (Aspar, Alfian M Fajri, Sabri). Sedangkan medali perunggu dari nomor men’s speed WR (Aspar).

Kompetisi berikutnya adalah 2 seri kejuaraan dunia pada Oktober di China. Pertama di IFSC Worldcup Xiamen, Indonesia berhasil merebut 1 emas dan 1 perak. Emas dipersembahkan oleh Aries sedangkan perak dari Aspar.

Sepekan setelahnya yakni di IFSC Worldcup Wujiang, Indonesia mengawinkan emas dari men’s dan women’s speed WR. Aries dan Aspar kembali menjadi pahlawan yang berhasil merebut kedua emas itu.

Kemenangan ini sekaligus menjadi pemecah misteri medali emas bagi Aspar. Bukan kepalang bahagianya Aspar kala itu.

“Saya hanya ingin mengatakan bahwa selama masih punya mimpi, maka masih ada waktu untuk membuktikan. Meski saya sering dianggap spesialis perak, namun saya tidak pernah menghapus mimpi saya untuk jadi nomor satu. Dan, hari ini saya buktikan. Terima kasih, ini untuk Indonesia,” ujar Aspar di Wujiang, Minggu (21/10/2018).

Di sisi lain, para atlet junior tak kalah mentereng dengan senior-seniornya. Pada kejuaraan Asian Youth Championship di Chongqing, China, atlet junior berhasil menyumbang 2 medali emas. Kedua medali ini dipersembahkan oleh Kiromal Katibin dari nomor junior men’s speed WR dan Amanda Narda Mutia dari nomor youth B women’s speed WR.

Menutup tahun 2018, para senior bertanding di Asian Championship di Kurayoshi, Jepang. Kali ini Indonesia benar-benar mendominasi podium dengan merebut 5 dari 6 medali di nomor speed WR men’s dan women.

Di nomor men’s speed WR, medali emas, perak, dan perunggu berturut-turut diraih oleh Alfian M Fajri, Sabri, dan Aspar. Kemudian di nomor women’s speed WR medali emas dipersembahkan oleh Agustina Sari dan perunggu dari Aries.

Baca juga  Pelatnas Panjat Tebing Pra-Olimpiade Tokyo Resmi Dibuka di Jogjakarta

Selain kompetisi yang tercatat di kalender IFSC, atlet-atlet Indonesia juga mengikuti sederet kompetisi internasional lain. Mereka diundang khusus oleh China Mountaineering Association (CMA) karena merupakan atlet elit yang menduduki peringkat 10 besar dunia. Ada juga atlet yang mengikuti kompetisi dengan biaya sendiri.

Dalam kompetisi The Belt and Road International Climbing Master Tournament 2018 di Huaian, China, 9-10 Oktober 2018, Indonesia berhasil membawa pulang 4 medali yakni 2 emas dan 2 perunggu.

2 Emas dipersembahkan oleh Aries dan Septo Wibowo, sedangkan 2 perunggu diraih oleh Agustina Sari dan Sabri. Masing-masing dari nomor men’s dan women’s speed WR.

Masih di bulan Oktober, mereka melanjutkan seri The Belt and Road International Climbing Master Tournament, yang kali ini digelar di Wanxianshan. Indonesia kembali mendominasi podium dengan memboyong 5 medali yakni 2 emas, 1 perak, dan 2 perunggu.

Emas dipersembahkan oleh Aries (women’s speed WR) dan Aspar (men’s speed WR), sedangkan perak oleh Agustina Sari (women’s speed WR). Kemudian medali perunggu diraih oleh Nurul Iqamah (women’s speed WR) dan M Hinayah (men’s speed WR).
Aspar Jaelolo Rebut Perak di China Open
Lalu di International Climbing Series: China Open di Guangzhou, Indonesia meraih 1 medali perak yang dipersembahkan oleh Aspar. Kali ini nomor women’s speed WR tidak menyumbang medali karena sistem pertandingannya berbeda dengan pertandingan pada umumnya. China Open juga baru pertama kali digelar.

Setelah sederet prestasi di 2018, kini para atlet harus mempersiapkan diri menuju kompetisi akbar pra-olimpiade 2019 di Prancis dan Olimpiade 2020 di Tokyo.

Mereka harus bekerja keras untuk menghadapi turnamen bergengsi itu. Mengingat nomor yang akan dipertandingkan di Olimpiade hanyalah combine yang menggabungkan speed, lead, dan boulder.

Semoga para atlet bisa mempertahankan tradisi membawa pulang medali meski mereka harus mulai memperluas nomor pertandingan yang diikuti.