Motivasi Tinggi Abu Dzar Yulianto

MENJADI seorang idola, yang kini berlatih dengan atlet-atlet yang mengidolakannya dahulu, menjadi kebanggaan bagi Abu Dzar Yulianto. Ia dan atlet penggemarnya kini berjuang untuk tujuan yang sama yakni mendulang emas untuk Indonesia di Asian Games dari panjat tebing.

“Rasanya senang, lucu, bangga sempat menjadi idola mereka. Sekarang bangga lihat mereka yang bisa bersaing di level dunia.

Abu Dzar memang atlet yang tertua dalam pemusatan latihan nasional (pelatnas), tetapi semangat dan kemampuannya tidak kalah. Wajar jika banyak atlet mengidolakannya. Termasuk Aspar Jaelolo. “Dulu dia (Aspar) mengidolakan saya dan sekarang bisa (bermain) di level tertinggi.”

Pergulatannya dengan dunia panjat tebing dimulai ketika ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Atlet yang lahir di Gresik, 30 Juli 1985 ini awalnya dikenalkan oleh saudaranya yang bernama Pak Abas dan juga tetangganya yang kini tinggal di Singapura, Triyana.

“Pak Abas itu salah satu pemanjat tua di Indonesia dan Triyana juga atlet lama di Indonesia.”

Kecintaannya terhadap sport climbing berawal dari sekadar iseng. Lantaran terus mencoba, lama-lama kegandrungannya menjadi besar. Ia juga merasa semakin tertantang.

“Ingin sampai puncak kok enggak bisa-bisa (sehingga tertantang). Lama-lama jadi kesenengan tersendiri.”

Bisa bergabung dalam tim Asian Games 2018 membuatnya merasa bangga. Menurutnya, setiap atlet harus siap membawa nama Indonesia. Dari situ, ia memiliki motivasi yang tinggi untuk memberikan yang terbaik.

“Saya termotivasi, yang tua jangan sampai kalah dengan yang muda. Tunjukkan potensi yang bagus, bersaing secara sehat.”

Atlet yang meraih medali pertamanya di kejuaraan nasional Purwokerto 2003 itu berjanji akan memberikan sejarah yang baik untuk Indonesia. “Saya ingin mengukir sejarah yang tak terlupakan,” kata atlet yang meraih perak di Asian Championship di Korea 2004.

Mimpinya saat ini adalah panjat tebing menjadi olahraga yang semakin maju. Ia berharap suatu hari nanti ada perwakilan atlet panjat tebing Indonesia yang bermain di Olimpiade. “Saya berharap ada atlet Indonesia yang benar-benar bisa menunjukkan taringnya dan bermain di level itu (Olimpiade).”

Meski tak muda lagi, Abu bisa mempertahankan performa baiknya. Ia memiliki resep sendiri untuk menjaga penampilannya. “Resepnya harus bisa jaga stamina. Kita yang tahu kondisi tubuh harus bisa selalu jaga kondisi. Banyak aktivitas yaitu tetap berolahraga gitu lho. Harus sering berlatih jangan lama-lama libur.”

Segudang prestasi ia telurkan. Satu emas ia raih dari speed di KIA World X Games-China 2008, dua emas speed di PON Palembang 2004, tiga emas di speed PON Kaltim 2008, satu emas speed klasik di PON Jabar 2016, satu emas speed world record relay di Asian Championships-China 2015, dan dua emas speed di SEA Games 2011.

Untuk medali perak, ia mendapat satu perak speed KIA World X Games-China 2009, satu perak speed world record IFSC World Cup Wujiang-China 2009, satu perak speed PON Palembang 2004, satu perak speed PON Kaltim 2008, dua perak speed PON Riau 2012, dan tiga perak speed PON Jabar 2016.

Selain itu, ia juga meraih perunggu yakni satu perunggu di speed KIA World X Games-China 2014 dan satu perak speed record Asian Championships-Iran 2017. ***

57Shares