Transformasi Nurul Iqamah

TIDAK ADA  yang menyangka jika Nurul Iqamah, salah satu atlet panjat tebing Indonesia yang akan turun di Asian Games 2018 ini pada awalnya tidak menyukai olahraga ini. Alasannya sederhana. “Saya takut ketiggian,” ujar atlet kelahiran Bima, 6 Mei 1995 ini.

Butuh tahapan untuk membuat rasa takutnya sirna. Orang yang berjasa membuatnya berani dan mantap menekuni panjat tebing tak lain adalah saudaranya sendiri, Fitrah Rahma. Sang saudara yang sudah lama menekuni sport climbing selalu mendorong dan menyemangatinya untuk mencoba.

“Ayo, Rul! Enggak usah takut ketinggian. Enggak usah lihat ke bawah, manjat lihat ke atas terus’,” ujar dia seraya menirukan motivasi dari saudaranya.

Lama kelamaan, rasa takut itu sirna perlahan-perlahan seraya ia menjejakkan kaki di setiap poin-poin pada papan panjat. Sejak 2006 itulah, ia terus menekuni panjat tebing meskipun memang pada awalnya masih main-main.

“Awalnya main-main karena masih 10 tahun. Akhirnya bisa serius dan sampai sekarang.”

Pada tahun yang sama, ia diterjunkan dalam kejuaraan nasional di Bali. Menurutnya, ia ikut dipilih karena saat itu, Nusa Tenggara Barat kekurangan atlet. Ia mengaku belum mendapatkan juara pada kejurnas tersebut.

Tujuh tahun kemudian, ia baru bisa meraih medali pertamanya. “Waktu yang sangat lama.”

Namun, prestasinya tak berhenti di situ saja. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat, Nurul membawa pulang medali perunggu kategori boulder perorangan. Kemudian, pada 2017, sejumlah medali ia rebut. Ia mendapatkan emas untuk kategori lead dari kejuaraan yang digelar Eiger di Bandung dan kejuaraan nasional (Kejunnas) FPTI di Jogjakarta.

Nurul juga membukukan medali perak untuk nomor lead di kejurnas di Jogjakarta dan juara tiga untuk boulder tim campuran di Jogjakarta juga.

Sementara, untuk level internasional, ia pertama kali ikut pada Asian Youth dan berada di peringkat lima. Pada 2017, Nurul mengikuti Asian Championship di Iran. Sayangnya, atlet 23 tahun itu belum bisa meraih medali.

Pada 2018, ia beralih di nomor speed dan berlaga di kejuaraan dunia di Moscow dan China. Ia berhasil menempati posisi ke-10.

Mengawali karier di dunia panjat tebing di nomor lead dan boulder, membuat Nurul kesulitan ketika harus beralih ke speed. Tingkat kecepatan yang bertolak belakang membuatnya kewalahan.

“Awalnya sangat sulit beralih ke speed. Awalnya saya manjat pelan (sekarang harus cepat).”

Namun, ia merasa beruntung dikelilingi rekan dan pelatih pemusatan latihan nasional yang selalu memberikan dukungan sehingga ia bisa memacu bakat terpendamnya. Kini, ia pun menyenangi nomor baru tersebut.

“Pertama kali (mencoba) speed world record (catatan waktu) di 12 detik. Sekarang tembus tujuh (detik).”

Karena itu juga, kejuaraan dunia yang ia ikuti menjadi kompetisi paling berkesan. Pasalnya, saat itu, ia turun di nomor yang baru saja ia tekuni yakni nomor speed. Bagi Nurul, ini juga menjadi salah satu bukti transformasinya ke nomor speed.

Nurul bercerita, bisa masuk dalam pelatnas Asian Games merupakan perwujudan dari angan-angan tertinggi setiap atlet. “Enggak nyangka bisa masuk pelatnas. Angan-angan atlet pasti ingin masuk tim tertinggi. Kok (saya) bisa masuk itu enggak pernah kebayang.”

Ia pun tak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan persiapan yang sudah mencapai 95%, Nurul berjanji akan memberikan yang terbaik. “Saya akan memberikan yang terbaik dari yang terbaik selama saya latihan.”

49Shares