Tak Hanya untuk Road to LA28, Seleknas Panjat Tebing Fokus Pembinaan Berkesinambungan
Proses seleksi nasional (seleknas) atlet panjat tebing yang digelar PP FPTI memiliki misi yang lebih besar. Seleknas tidak hanya fokus pada persiapan menghadapi Olimpiade LA 2028 (Road to LA28), tetapi juga pembinaan prestasi yang berkesinambungan.
Tes seleknas panjat tebing dilaksanakan selama tiga hari, 17-19 Oktober 2028. Menariknya, ada komposisi atlet dengan usia di bawah 17 tahun U17) yang ikut serta dalam seleknas kali ini.
Sebanyak 12 atlet U17 berhak mengikuti seleknas ini. Dalam masing-masing kategori yakni speed putra, speed putri, lead & boulder putra, dan lead & boulder putri terdapat tiga atlet U17.
Sekretaris Umum PP FPTI Pristiawan Buntoro menjelaskan pembinaan prestasi tak boleh berhenti. Meskipun target terdekat yang akan dicapai adalah Olimpiade LA 2028, namun FPTI juga harus bersiap untuk Olimpiade Brisbane 2032.
“Makanya, komposisi seleknas kali ini ada atlet under 17 yang kita bawa. Karena misi kita, proses pembinaan prestasi tidak boleh berhenti. Tidak boleh berhenti di LA saja meskipun target saat ini ada di sana. Intinya bukan di LA, bukan di Brisbane, tapi berkesinambungan,” ujar dia.
Pristiawan menjelaskan, meskipun Indonesia memiliki atlet panjat tebing andalan, FPTI tidak ingin hanya bergantung pada mereka. FPTI memiliki sistem kompetisi. Kompetisi yang baik, rutin, dan berkualitas sangat memengaruhi prestasi.
“Proses berkesinambungan tadi, tidak lepas dari sebuah ekosistem kompetisi seri nasional dan kejurnas. Dari situlah ada peringkat dan dari peringkat itulah kita memberikan hak kepada semua yang terbaik dalam peringkat itu untuk dipanggil mengikuti seleknas,” papar dia.
Namun, menurutnya, atlet dengan peringkat terbaik itu belum tentu bisa langsung direkrut. Apalagi FPTI telah mengadopsi sistem pelatihan berdasarkan sport science sehingga aspek yang dinilai lebih kompleks seperti kesehatan dan psikologi.
Dalam konteks yang lebih besar, FPTI memiliki misi agar prestasi panjat tebing tidak boleh hanya berhenti pada target tertentu, tetapi harus berkesinambungan. FPTI melihat saat ini merupakan momentum untuk menciptakan ekosistem yang sehat, bermartabat, dan dilindungi secara hukum. Apalagi di tingkat akar rumput, panjat tebing mulai dilombakan di Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) pada 2026 ini untuk tingkat SMP dan SMA.
Mengenai pengimplementasian sport science, ia mengatakan untuk di Indonesia memang masih dikatakan mahal apalagi hasilnya tidak bisa langsung dilihat. Namun, apapun kendalanya, FPTI berkomitmen untuk konsisten melaksanakan sistem pelatihan dan program berdasarkan sport science.
Salah satu atlet U17 yang ikut dalam seleknas, Ibni Balqis Larasati Wardhana mengikuti seleksi untuk kategori lead & boulder putri. Ia pun berlatih keras sebagai persiapan mengikuti seleknas seperti latihan memanjat, ketahanan, dan simulasi.
Ia berharap bisa lolos masuk pelatnas dan berkompetisi di ajang internasional. “Jika saya lolos masuk pelatnas, semoga bisa mempermudah saya mengikuti kompetisi seperti Asian Youth Championship. Ada World Cup juga. Semoga bisa ikut World Climbing Youth Championship. Terus, target saya bisa ikut di Olimpiade Brisbane 2032,” ujar dia.
Dalam seleknas ini, ada 56 atlet yang berhak mengikuti. Namun, saat pelaksanaannya terdapat dua atlet yang tidak ikut serta sehingga seleknas diikuti 54 atlet.
Sebanyak 16 atlet mengikuti seleknas untuk kategori speed putra, 16 atlet untuk kategori speed putri, 11 atlet di kategori lead & boulder putra, dan 11 atlet di kategori lead & boulder putri. Dari 54 calon atlet akan dipilih 28 atlet untuk masuk dalam Pelatnas Panjat Tebing Road to LA 2028.
Selama tiga hari pelaksanaan seleknas, para atlet mengikuti beberapa tes. Adapun tes yang harus mereka jalani yakni tes psikologi di hari pertama, kesehatan di hari kedua, dan pemanjatan di hari ketiga.
Tes psikologi meliputi aspek intelegensi, konsentrasi, kepribadian, mental kompetitif. Tes kesehatan meliputi musculoskeeletal dan injury screening, antropometri dan bodycompotition (BIA). Sementara, saat tes pemanjatan meliputi pemanjatan speed dan pemanjatan lead & boulder.
Saat pemanjatan speed, atlet wajib melakukan lima kali pemanjatan untuk mendapatkan best time. Sementara, dalam pemanjatan lead & boulder, masing-masing atlet wajib melakukan dua jalur pemanjatan baik putra dan putri.

