Tim Indonesia Bigwall Expedition Taklukkan Tiga Tebing Paling Berbahaya Eropa
Tim Indonesia Bigwall Expedition (IBEX) resmi menutup misi “The Earth Expedition – Europe” dengan mengibarkan Merah Putih di puncak Naranjo de Bulnes, Spanyol, setelah tiga hari perjuangan di batu kapur Picos de Europa.
Hal ini melengkapi rangkaian sejarah yang sebelumnya sudah dicatatkan di Le Petit Dru, Prancis, dan Troll Wall, Norwegia.
Bertepatan dengan momentum 81 tahun kemerdekaan Indonesia, lima pemanjat tanah air M Akram Al Amien, Iga Wihantara, Nazib Fadlullah, Deden Wahyudin, dan Dodi Liswardi, merampungkan misi ekstrem. Merela memanjat dinding-dinding tegak lurus setinggi ratusan hingga ribuan meter, tiga tebing yang oleh para alpinis dunia dijuluki paling sulit digapai.
Naranjo de Bulnes menjadi penutup dari trilogi tebing yang masing-masing menyimpan sejarah panjang alpinisme dunia.
Naranjo de Bulnes, atau dikenal secara lokal sebagai Picu Urriellu, adalah puncak batu kapur setinggi 2.519 meter yang berdiri sendiri di jantung Picos de Europa. Siluetnya begitu khas hingga terlihat jelas dari kejauhan, menjadikannya salah satu puncak paling ikonik dalam sejarah panjat tebing Spanyol sejak pertama kali dipanjat pada 1904 oleh Pedro Pidal. Berbeda dari granit Le Petit Dru maupun batuan keras Trollveggen, tebing kapur ini menghadirkan tantangan yang sama sekali berbeda.
Perjalanan menuju tebing ini sendiri sudah menjadi babak tersendiri. Usai menuntaskan Troll Wall, tim bertolak dari Norwegia menuju Spanyol pada 4 September 2026 dan tiba di Madrid keesokan harinya, sebelum melanjutkan perjalanan ke Las Arenas pada Senin, 7 September, dan tiba pada 8 September.
Tim mulai bergerak menuju desa terakhir, Sotres, lalu trekking menembus medan terjal menuju Advance Base Camp (ABC) sejauh 10 kilometer dengan elevation gain 1.100 meter, sambil menggendong 30 kilogram beban logistik dan alat panjat per orang. Cuaca saat itu berubah drastis dari terik ke dingin menusuk hingga 8°C. Kondisi inilah yang membuat salah satu pemanjat, M. Akram, sempat tumbang kelelahan. Meski begitu, ekspedisi tetap berlanjut.
Iga Wihantara menyampaikan, pemanjatan big wall start pada 10 September melalui jalur Murciana78 sepanjang 12 pitch. Crux tersulit ada di pitch 3 dan 4 pada grade 7c+ dan 7a, di atas limestone. “Syukurnya jalurnya kering, dan hangernya jelas di setiap station pitch. Tidak licin dan bebas rockfall. Kondisi yang buat kami terasa lebih aman dibandingkan saat kami di tebing Petit Dru maupun Troll Wall yang rawan sekali batuan lepas dan mengancam nyawa.”
Hari pertama, tim memanjat hingga pitch 4 sebelum kembali ke ABC; pada 11 September, pemanjatan dilanjutkan hingga stasiun pitch 7, lalu kembali lagi ke ABC untuk beristirahat.
Pada hari ketiga, 12 September 2026, tim akhirnya menuntaskan sisa jalur hingga puncak. Merah Putih pun berkibar di puncak Naranjo de Bulnes pukul 16.30 waktu setempat, dengan seluruh lima anggota tim berhasil mencapai titik tertinggi bersama-sama.
Bagi tim, Naranjo de Bulnes bukan sekadar penutup rangkaian, melainkan representasi keberagaman medan yang telah mereka lalui, dari granit Pegunungan Alpen, dinding es Skandinavia, hingga batu kapur Cantabria, mencerminkan semangat yang sama dengan perjuangan bangsa meraih kemerdekaan: penuh risiko, tidak instan, dan membutuhkan kegigihan.
Dodi Liswardi, Wakil Ketua Tebing Alam FPTI yang juga merupakan anggota tim paling senior, menambahkan, “Kami harap Earth Expedition Europe ini dapat meningkatkan semangat teman-teman di Indonesia untuk panjat tebing. Tidak hanya terbatas untuk kalangan anak muda, karena di usia saya yang 62 tahun pun masih tetap bisa, asal ada kemauan.”
Le Petit Dru Jadi Pembuka Misi
Misi ini dibuka dengan pencapaian tim di puncak Le Petit Dru, salah satu tebing granit paling ikonik karena bentuknya yang runcing dan dramatis di Pegunungan Alpen, pada Senin, 3 Agustus 2026 pukul 23.00 waktu setempat. Prestasi ini diraih setelah empat hari pemanjatan penuh risiko di jalur teknis American Direct sepanjang 30 pitch dengan tingkat kesulitan 6c/5.11b/c, menggunakan teknik traditional climbing, di mana seluruh sistem pengamanan dipasang secara mandiri oleh tim. Es yang mencair di musim panas memicu rockfall yang nyaris terjadi setiap menit, bahkan memaksa satu tim pemanjat asal Italia mundur sebelum mencapai puncak.
“Semua momen bisa dibilang, pada saat manjat American Direct itu menguji nyali. Karena kita enggak akan pernah tahu kapan kita akan mati. Batu-batu yang tadinya terikat es itu jadi lepas, dan rockfall hampir terjadi setiap menit. Bahkan saat kami bivak di pitch 7, ada batu sebesar meja jatuh hanya lima meter dari kami,” ujar M. Akram, anggota Tim IBEX.
“Tangan kami sudah luka-luka dan kebas akibat udara yang sangat dingin dan cuaca yang berubah-ubah. Badai kuat terjadi di pitch 18, baju yang kami kenakan basah semua. Suara batu-batu jatuh juga terus bergemuruh. Suasananya sangat tegang,” kata Deden Wahyudin, anggota Tim IBEX.
Tebing Kedua: Trollveggen (Troll Wall), Norwegia
Dari Prancis, tim melanjutkan ke Trollveggen di Lembah Romsdalen — dinding vertikal tertinggi di Eropa, menjulang sekitar 1.100 meter dengan overhang raksasa yang menjorok hampir 50 meter dari dasarnya. Sejak pertama kali dipanjat manusia pada 1965, tebing ini tetap menjadi salah satu medan paling ditakuti dalam sejarah panjat tebing dunia. Para alpinis dunia menjulukinya “Wall of Trolls”, sesuai cerita rakyat Norwegia yang menyebutnya sebagai tempat tinggal makhluk mitologi raksasa itu.
Sebelum berangkat, Nazib Fadlullah, Manajer Tim IBEX, menyampaikan, Troll Wall ini tebing impian para pemanjat dunia, karena terkenal sangat ekstrem. “Jalurnya mudah longsor, batuannya rapuh, dan cuacanya sangat dingin. Jadi, mohon doa dari teman-teman di tanah air, semoga ekspedisi kami bisa berjalan lancar dan selamat.”
Sejak 19 Agustus 2026, tim menyusuri Norwegian Route (Norskeruta) sepanjang 1.200 meter di tengah hujan deras dan suhu yang anjlok hingga -2°C. Kondisi yang sempat menghentikan pemanjatan selama empat hari penuh. Tim bertahan menunggu cuaca membaik, lalu kembali melangkah begitu jalan terbuka. Pada 29 Agustus 2026 pukul 09.30 waktu setempat, puncak Troll Wall dicapai, mengibarkan Merah Putih di dinding yang sama yang pertama kali dipanjat tim Norwegia enam dekade silam.
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI), yang mendukung penuh ekspedisi ini, menyampaikan apresiasi atas kesuksesan tim IBEX yang dipimpin oleh Freden Sembiring Milala dalam merampungkan ketiga tebing dalam misi The Earth Expedition – Europe. Ekspedisi ini menegaskan makna capaian ini bagi perkembangan olahraga panjat tebing tanah air.
Robertus Robet, Ketua Tebing Alam dan Rekreasi FPTI mengatakan, dengan capaian ini, sekali lagi pemanjat Indonesia membuktikan kemampuan yang setara dengan pemanjat elite dunia. “Kita tahu bahwa setiap inci kemajuan memberikan arti besar bagi keseluruhan cabang olahraga ini.”
Bagi tim IBEX sendiri, misi ini dimaknai lebih dalam dari sekadar rekor ketinggian. Mengusung tema besar “Earth Expedition”, setiap langkah di tebing Eropa sekaligus menjadi kampanye global tentang pelestarian alam dan etika panjat tebing berkelanjutan (leave no trace), nilai yang mereka bawa pulang untuk ditularkan kepada generasi pemanjat muda Indonesia.
Indonesia Bigwall Expedition adalah inisiatif ekspedisi panjat tebing big wall, baik di dalam maupun luar negeri, yang digagas untuk memperkuat keterwakilan Indonesia dalam peta panjat tebing dunia, sekaligus menjadi media kampanye pelestarian lingkungan dan representasi semangat kepemudaan Indonesia di kancah global. The Earth Expedition Eropa adalah babak ketiga dari perjalanan panjang IBEX, melanjutkan jejak keberhasilan di El Capitan, Amerika Serikat (2023), dan Trango Tower, Pakistan (2025) — menegaskan posisi Indonesia sejajar dengan negara-negara besar di panggung panjat tebing internasional.

